Project Mbappe, Pola Asuh Yang Mendesain Anak Jadi Mega Bintang

  • Administrator
  • Selasa, 14 Juli 2026 11:13
  • Trending

Jelang pertandingan semifinal antara Prancis dan Spanyol di Final Piala Dunia 2026, pemain Prancis yang menyita perhatian adalah Kylian Mbappe. Ia adalah top skorer bersama bintang Argentina, Lionel Messi, dengan sama-sama mencetak 8 gol di ajang sepak bola paling akbar sedunia ini.

Pemain penyerang yang kini bermain di Real Madrid, Spanyol ini lahir dan besar daerah pinggiran Paris pada tahun 1998.  Ayah Kylian, Wilfried Mbappe, adalah seorang imigran asal Kamerun yang bekerja sebagai pelatih sepak bola usia muda di klub lokal AS Bondy. Ibunya, Fayza, merupakan mantan atlet bola tangan.

Kylian kecil sudah dibawa ke lapangan bola sejak usia balita. Ia sering duduk di ruang ganti untuk mendengarkan instruksi taktik sang ayah sebelum pertandingan dimulai. Alih-alih boneka, mainan utama dan bantal tidur Kylian sejak bayi adalah pernak pernik berbau sepak bola.

Pola asuh yang diterapkan Wilfred dan Fayza pada anaknya adalah memfasilitasi passion Kylian pada sepak bola sejak kecil. Wilfred melatih langsung putranya di klub lokal, dan di rumah hari-hari mereka diwarnai dengan diskusi taktik, video pertandingan dan latihan yang intensif.

Kedua orang tuanya juga memutuskan tidak memasukkan Kylian ke sekolah formal, melainkan memilih sekolah berkurikulum fleksibel agar Kylian dapat menghabiskan sebagian besar waktunya untuk fokus berlatih sepak bola secara profesional. 

Wilfred juga membantu motivasi Kylian dengan mengajaknya menonton langsung sesi latihan tim nasional Prancis. Ia dipertemukan dan foto bersama legenda besar sepak bola Prancis seperti Thierry Henry dan Zinedine Zidane untuk menumbuhkan mentalitas juara dan visi karier yang jelas sejak usia 5 tahun.

Keluarga Mbappe bisa dibilang memperlakukan bakat anaknya seperti sebuah investasi jangka panjang yang dikelola secara korporat, namun penuh kasih sayang. Ketika Kylian mulai menunjukkan bakat luar biasa di usia 6 tahun, seluruh keputusan hidupnya —mulai dari pilihan sekolah, akademi sepak bola (seperti Clairefontaine), hingga menolak tawaran klub raksasa seperti Real Madrid dan Chelsea di usia muda— semuanya diatur orang tuanya untuk melindungi pertumbuhan Kylian. 

Seperti istilah usaha tidak mengkhianati hasil, Kylian tumbuh menjadi pemain bola yang sangat berbakat. Setelah terpilih masuk ke akademi nasional elite Prancis, INF Clairefontaine, pada usia 14 tahun, orang tua Kylian memilih akademi AS Monaco karena dinilai memiliki jalur terbaik menuju skuad utama, daripada pergi ke Real Madrid maupun Chelsea.

Dan pada debut profesionalnya yang pertama, 2 Desember 2015, Kylian pun mencatatkan rekor menjadi yang termuda dalam sejarah klub yaitu usia 16 tahun 347 hari. Rekor yang sebelumnya dipegang Thierry Henry, sebagai pemain termuda dalam sejarah klub.

Performa fantastisnya bersama AS Monaco inilah yang membuat Kylian dianugerahi penghargaan Golden Boy pada tahun 2017, memicu transfer raksasa ke klub Paris Saint-Germain, dan mengantarkannya menjadi juara dunia bersama Prancis pada tahun 2018 di usia belia. Dan setelahnya, kita melihat prestasi demi prestasi dicetak Kylian Mbappe.  

Kesuksesan Kylian kemudian memunculkan istilah atau fenomena budaya bernama Project Mbappe. Trend ini merujuk pada pada ambisi besar orang tua untuk mencetak anak mereka menjadi atlet profesional kelas dunia sejak usia balita. 

Seperti dua sisi mata uang, banyak juga yang memaknai pola asuh dengan program latihan super disiplin dan terencana kedua orang tua Kylian diterjemahkan menjadi metode pengasuhan yang sangat ambisius. Banyak orang tua yang terobsesi dengan kesuksesan finansial dan popularitas atlet modern, sehingga mereka mulai mengatur hidup anak secara militer sejak dini. Jadwal harian anak-anak ini dipadati oleh latihan fisik yang intens, pembatasan waktu bermain, hingga pengaturan pola makan yang ketat demi mengejar mimpi menjadi "The Next Mbappe".

Di platform seperti TikTok dan Instagram, istilah ini menjadi meme komedi yang viral. Banyak orang tua yang membagikan video bayi atau balita mereka yang baru bisa berjalan, tetapi sudah dipakaikan sepatu bola berukuran besar, diajak latihan kelincahan melewati kerucut (cones), atau diberi operan bola yang keras. Video-video ini biasanya dilengkapi dengan latar musik yang dramatis atau narasi suara ala pelatih lokal yang sangat serius, memancing tawa jutaan netizen.

Pola pengasuhan terintegrasi yang "mendesain manusia menjadi megabintang" inilah yang kemudian ditiru di dunia nyata dan diparodikan di media sosial sebagai gerakan Project Mbappe.

 

kylian mbappe mbappe project sepakbola pialadunia

Komentar

0 Komentar